Loading...

Selasa, 17 Mei 2011

Mengapa orang Barat lebih kreatif dari orang Asia ?

  1. Bagi kebanyakan orang Asia, parameter kesuksesan cenderung masih ditentukan oleh ukuran materi (jabatan, uang, kemewahan). Sayangnya, passion (kecintaan akan suatu bidang) menjadi nomor ke sekian. Seniman yang orisinil tapi terlihat tidak kaya masih dicibir daripada dokter yang gaya hidupnya serba berkecukupan. Kebanyakan orang tua konvensional lebih mendorong anak-anaknya untuk terjun dalam dunia profesional yang stabil dan cepat menghasilkan uang, seperti: dokter, pengacara, guru, perawat, pilot, dan pegawai negeri. Bidang pekerjaan kreatif hampir selalu dihindari karena dinilai tidak pasti mendatangkan uang.
  2. Bagi kebanyakan orang Asia, hasil lebih diapresiasi daripada bagaimana cara mendapatkannya. Orang yang kaya mendadak lebih favorit daripada orang yang mengumpulkan uangnya sedikit demi sedikit dari bidang yang benar-benar diminatinya. Orang tuapun, cenderung “menjodohkan” anaknya dengan anak orang yang sudah kaya, daripada dengan anak miskin namun mempunyai semangat kerja keras tinggi dan mandiri.
  3. Maunya serba instan, langsung dapat hasil yang banyak, tanpa mempedulikan dan menikmati proses. Mau tes SPMB, berduyun-duyun mencari LBB yang menyediakan rumus cepat kilat. Mau kerja, cari LBB yang menyediakan trik and tips mengerjakan soal CPNS. Mau kaya cepat, tidak heran pula bila perilaku korupsi pun ditolerir/diterima sebagai sesuatu yang wajar.
  4. Pendidikan bagi kebanyakan sekolah di Asia masih berbasis hafalan (yang diklaim sebagai standar minimal pemahaman). Mulai dari SD hingga perguruan tinggi, mulai tes masuk SD hingga SMPTN, bentuk soal yang diberikan adalah soal-soal textbook.  Begitu sudah lulus SMA, misalnya, dan memasuki perguruan tinggi, hafalan-hafalan itu seakan tidak ada gunanya, dan begitu lulus kuliah dan bekerja, mungkin hanya dokter, hakim, dan pengacara saja yang memanfaatkan sistem hafalan ini dalam profesi mereka. Selain itu, bidang-bidang yang memerlukan kreatifitas, seperti: guru, dokter anak, seniman, sastrawan, merasa “tersesat” dalam kehidupan nyatanya.
  5. Karena berbasis hafalan, murid-murid di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi “Jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit-sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun). Ajak saja mahasiswa Indonesia berdebat, dari politik sampai seni, niscaya mereka bisa memenangkannya. Namun jika ditanya berapa banyak mahasiswa yang kemudian menjadi AHLI di bidangnya? Bisa dihitung dengan kalkulator jari.
  6. Karena berbasis hafalan, kebanyakan Asia menyumbangkan penghargaan dalam Olympiade Fisika dan Matematika. Tapi hampir jarang sekali orang Asia yang memenangkan Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.
  7. Orang Asia konvensional takut salah dan takut kalah. Akibatnya, sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai. Mari kita belajar dari Rinso, nggak ada noda, nggak belajar!
  8. Bagi kebanyakan orang Asia konvensional, budaya bertanya masih sangat rendah, disebabkan sistem pendidikan kuno dalam keluarga yang menganggap bahwa bertanya itu tidak sopan, atau bertanya itu bodoh. Oleh karena itu, produk didikannya lebih sering menyimpan pertanyaannya sendiri dan membiarkannya lenyap begitu saja.
  9. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir, peserta akan mengerumuni guru/narasumber untuk meminta penjelasan tambahan.  (dari berbagai sumber)
Solutions?
  1. Hargai proses. Hargailah orang karena pengabdiannya, bukan karena kekayaannya. Percuma kaya karena warisan orang tua, lebih baik kaya karena usaha kreatif sendiri. Hargai anak muda miskin yang pekerja keras daripada anak muda kaya yang malas.
  2. Hentikan pendidikan berbasis hafalan. Rumus hanya mempermudah mengingat (alat), bukan tujuan. Hubungkan pelajaran dengan contoh kehidupan nyata, dan biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya.
  3. Stop mencekoki siswa dengan banyaknya hafalan. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban untuk X x Y harus dihapalkan? Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar dikuasainya.
  4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan passion (rasa cinta)-nya pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang, namun ia sendiri merasa tersiksa menjalaninya.
  5. Dasar kreativitas adalah rasa penasaran berani ambil resiko. Ayo bertanya!
  6. Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui dengan bangga kalau kita tidak tahu! Lalu ajak siswa untuk bersama-sama mencari tahu.
  7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan. Sebagai orang tua, kita bertanggungjawab untuk mengarahkan anak/siswa kita untuk menemukan passionnya dan mensupportnya.
Kreatif di Indonesia
Meskipun Indonesia adalah gudangnya orang kreatif, tapi kebanyakan mereka suksesnya di luar negeri. Betapa banyak animator asal Indonesia yang direkrut oleh perusahaan animasi Barat? sebut saja Dreamworks, Walt Disney, dan yang terakhir, Upin Ipin. Sri Mulyani yang super cerdas itupun, akhirnya memilih untuk berkarir di World Bank daripada di Kementrian Keuangan Indonesia.
Tapi saya selalu terbawa virus kreatifnya mas Yoris Sebastian, dan sangat percaya bahwa stok orang kreatif di Indonesia jauh lebih banyak dari di Barat. Yang perlu diperhatikan adalah, bagaimana menjaga agar semangat kreatif itu bisa diaktualisasi dalam karya yang nyata dan berkesinambungan.
Buktinya, para penemu di Djarum Black Innovation Awards (BIA), menciptakan begitu banyak penemuan yang sangat berguna bagi kemanusiaan. Mungkin, dengan pembinaan dan perlindungan hak cipta yang baik, serta sponsorship yang keren, siapa tahu, nanti Indonesia punya Google-nya sendiri, dengan konten khas Indonesianya.
Siapa tahu, 5-10 tahun ke depan kurikulum sekolah diperkaya dengan pendidikan berbasis kreatifitas. Siapa tahu, kreator akan mendapat gaji lebih tinggi dari profesi lain?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar